Bendungan Rusak Tak Terurus, Petani Mbocok Wae Laku Menjerit

Borong -Urita.ID, Puluhan Hektar sawah milik petani Mbocok, Dusun Sok, Desa Compang Ndejing Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur (Matim) Flores Provinsi NTT alami kekeringan dan tidak bermanfaat akibat kerusakan bendungan yang terbawa banjir pada bulan November 2021 lalu.

Pantauan media ini, Sabtu 15/10/2022 pukul 09.00 WITA, tampak puluhan hektar lahan sawah Mbocok Desa Compang Ndejing alami kekeringan dan tidak berfungsi. Namun, sebagian berali fungsi untuk menanam jagung dan sayur serta cabe.

Informasi di peroleh Urita.ID dari Siprianus Taur(50), salah seorang petani sawah asal Compang Ndejing mengatakan, bendungan yang mengairi sawah Mbocok mengalami kerusakan sejak bulan November 2021 lalu.

“Sejak bulan November lalu, setelah bendungan rusak, kami ada kurang lebih 37 orang petani mengalami dampak kerusakan bendungan. Kami sejak saat itu tidak bisa bekerja sawah lagi,” tukas Siprianus kepada Urita.ID saat diwawancarai di persawahan Mbocok.

Terkait luas lahan, kata Siprianus luas lahan persawahan Mbocok mencapai 15 hektar. Sedangkan air yang digunakan bisa mencakupi sawah puluhan hektar.

Agar bisa bertahan hidup, para petani Mbocok Wae Laku coba beralih tanam dengan menggunakan program Tanam Jagung Panen Sapi(TJPS), tapi, kata Sipri, gagal total.

“Kami ada beberapa anggota beralih dan coba mengikuti program TJPS, sudah dua kali tanam gagal total. Bangkrut. Tidak mendapatkan apa apa,” tukas Sipri.

Di tempat yang sama juga, warga lain, Theodorus Agot, mengatakan dirinya juga menjerit akibat kerusakan bendungan. Pasca kerusakan, dirinya tidak bisa berbuat apa apa. Lahan seluas 0.5 hektar miliknya beralih fungsi. Dari lahan sawah kini menjadi lahan kering untuk ditanami jagung.

” Pada waktu bulan April lalu, kami mengikuti sosialisasi Program TJPS, saya dengan memiliki lahan 0.5 hektar, oleh dinas pertanian diberi pinjaman berupa KUR TJPS, sebesar kurang lebih lima juta rupiah. Sejak bulan April, sampai sekarang sudah dua kali tanam, gagal terus,” keluh Theodorus.

Dirinya berharap Pemerintah bisa segera mungkin memperbaiki bendungan Mbocok Wae Laku, agar para petsni bisa kembali bekerja sawah.

“Bantu kami pak, kami kelaparan, satu satunya sawah yang menjadi tulang punggung kami adalah sawah Mbocok. Tolong perbaiki Bendungan Kami Pak Bupati dan Pak Gubernur.
Kami butuh hidup,” ungkap Theodorus.

Pada saat yang sama juga ia mengeluh atas gagal panennya jagung TJPS yang ia tanam selama beberapa musim. Menurut dia, ia kesulitan membayar kredit KUR TJPS.

Sementara itu, Pemerintah Desa Compang Ndejing, melalui Kepala Seksi Kepemerintahan, Edi Dahal mengatakan bahwa bendungan Mbocok Wae Laku sangat dibutuhkan petani.

Ia mengatakan 37 orang petani asal dusun Sok Desa Compang Ndejing memiliki sawah di Mbocok sebagai satu satunya kebun andalan untuk bertahan hidup.

Terkait koordinasi dengan pemerintah kabupaten, kata Egi, Pemdes Compang Ndejing telah menghimpun data petani dan sudah berkoordinasi dengan kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasca bencana tahun lalu. Namun hingga sekarang, kata dia belum terealisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *