Dukung Pembangunan Matim, Nasib Gregorius, Petani Asal Kembur Malah Menjadi Tersangka

Borong-Urita.ID, Penetapan tersangka terhadap Gregorius Jeramu, warga asal Kembur Kelurahan Satar Peot kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur (Matim), oleh Kejaksaan Negeri Ruteng, sebagai pemilik tanah terminal Kembur, pada 28 Oktober 2022 lalu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.

Hal tersebut diungkapkan Kornelia Sofia Nimul, Istri dari Gregorius Jeramu saat ditemui Urita.ID dikediamannya Rabu 2 November 2022 sore, sekira pukul 14.00 Wita.

Kornelia, sembari membendung air mata, lebih lanjut mengatakan bahwa ia bersama suaminya yang malang itu hanyalah seorang petani yang berusia senja. Tidak tahu tentang hukum.

Terkait sangkahan Kejaksaan Negeri Ruteng, bahwa suaminya turut terlibat dalam khasus dugaan korupsi pengadaan tanah terminal Kembur, Kornelia yang dalam keadaan sakit itu hanya bisa berlinang air mata. Ia mengaku, dirinya sangat kecewa atas kejadian yang menimpa keluarga dan suaminya.

Menurut Kornelia, hal terkait penetapan tersangka pada suaminya yang hanya seorang petani tulen adalah sesuatu yang tidak perna dibayangkan.

Ia mengisahkan, awal mula tentang penjualan tanah miliknya di terminal Kembur sebenarnya tidak terjadi.

“Saya tidak mau jual tanah itu. Kala itu, suami saya (Gregorius ) meminta untuk tanah itu di jual. Tetapi saya tidak mau jual. Boleh jual, tetapi dengan harga 700 juta rupiah. Karena memang harga tanah sekitaran perkantoran pada saat itu sedang naik. Apa lagi itu tanah dekat perkantoran,” ungkap Kornelia.

Dikatakan Kornelia, jual beli tersebut terjadi sekitar pada tahun 2012 silam. Dirinya tetap berpendirian agar tidak di jual. Pasalnya harga yang diberikan pihak pemerintah Kabupaten Manggarai timur melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika hanya sebesar Rp 400.000.000. Menurut Kornelia, harga tersebut jauh dibawa perkiraan yang direncanakan sebelumnya.

Ia mengatakan, pihak dinas kemudian mendatangi keluarganya di Kembur, dengan memohon untuk tanah itu bisa dibeli oleh pemerintah daerah untuk dijadikan terminal Kembur.

“Waktu itu mereka datang kedua kali, dengan kepok (cara adat) untuk meminta, mereka mengatakan bahwa nantinya tanah itu akan menjadi tempat ramai, terminal. Warga dan keluarga bisa jualan di sana, dan mereka memberi janji agar anak saya dan keluarga bisa mendapatkan pekerjaan di terminal apabila jadi di jual,” ungkap Kornelia.

Kornelia, akhirnya menyetujui tanahnya dijual, meski dengan harga jauh dari target sebelumnya. Pasalnya untuk mendukung kemajuan pembangunan kabupaten Manggarai timur.

“Saya dan suami saya dan keluarga sepakat, tanah itu dijual karena nantinya akan jadi kota dan rame orang bisa jualan disana,” tuturnya lagi.

Kejadian itu sepuluh tahun telah berlalu. 28 Oktober 2022, Kornelia dan keluarga tiba tiba dihadiahi kabar yang mencengangkan. Suaminya, Gregorius Jeramu yang dengan semangatnya dulu mendukung kemajuan Manggarai timur dikabarkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Negeri Ruteng, pada 28 Oktober 2022.

Anehnya, menurut Kornelia, suaminya tetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Ruteng, karena menjual tanah milik pribadi tidak memiliki alas hak, atau sertifikat dan juga turut memperkaya orang lain.

Kejadian itu sungguh terpukul bagi keluarga kecil Kornelia dan Gregorius, sebagai petani tulen yang tidak berpendidikan, dirinya hanya bisa menangis dan mengais keadilan atas khasus pengadaan tanah terminal Kembur.

Dukacita yang dialami Pasangan Gregorius dan Kornelia bersama keluarga menarik sejumlah rasa simpatik dan solidaritas dari kalangan masyarakat.

Bentuk dukungan dan solidaritas terus berdatangan, Aliansi masyarakat adat Kembur dan Forum Peduli Keadilan turun ke jalan untuk menggelar aksi damai seribu (1000) lilin untuk Gregorius pada Selasa, 01/11/2022 malam.

Tidak sampai disitu, bentuk dukungan juga turun untuk menggelar aksi damai di sejumlah titik di Kabupaten yang di pimpin Bupati Agas Andreas itu.

Ketua Koordinator Aksi, Candra Aliman mengatakan aksi damai digelar bermuali dari rumah Gregorius beralamat di Kembur, menuju persimpangan Kembur- Lehong, di Sekitaran Kota Borong, di depan Kantor Camat Borong dan Kantor Polres Manggarai Timur.

“Kita menggelar demo berupa aksi damai hari ini di sejumlah titik, sebagai bentuk dukungan dan inisiatif dan solidaritas atas matinya keadilan di Negeri ini. Kita berakhir di kantor DPRD Kabupaten Manggarai Timur, dan langsung beraudiensi dengan DPRD,” ungkapnya.

Harapannya, kata Candra, melalui aksi ini kita memperjuangkan hak-hak orang kecil yang tidak bisa bersuara untuk mendapat keadilan di negeri ini.

“Masih ada aksi lanjutan, kita akan menggelar aksi besar- besaran di kantor Kejaksaan Negeri Ruteng beberapa hari mendatang,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *