Horeee… Ada Badut di Sekolah

Opini ditulis Oleh: Jefrin Haryanto

Borong-Urita.ID, Judul tulisan ini saya “curi” dari caption salah seorang tua murid TK. St. Anggela Labuan Bajo yang baru saja menghantar anaknya dihari pertama masuk sekolah. Captionnya saya ambil utuh, Horee…Ada Badut di sekolah. Yah….ada yang tak lazim dilakukan oleh sekolah di Kota Premium tersebut.

Anak-anak baru tidak saja disambut oleh kakak kelasnya tapi juga ada badut yang Saya kira saya hanya satu dari banyak orang tua yang tergoda mengomentari status tersebut. Kabar baiknya banyak orang tua lain yang memberi apresiasi untuk “etika” baru yang diterapkan oleh Sekolah Taman Kanak terbaik, di Kota Premium itu.

Dalam beberapa waktu terakhir ini sebagai konsultan sekolah bahagia, kami memang berkesempatan untuk melakukan beberapa diskusi dengan kawan-kawan dari St.Angela. Sekolah ini, setidaknya sampai disaat saya membuat tulisan ini adalah sekolah yang sangat openminded dengan perubahaan. Sekolah yang berani berbeda dan sangat siap menghadapi disrupsi dan berdiri kokoh ditengah geliat kota premium.

Libur telah usai, tahun ajaran baru sebentar lagi dimulai. Biasanya rutinitas orangtua saat menyambut datangnya tahun ajaran baru adalah mempersiapkan perlengkapan sekolah anak. Namun, satu hal penting yang sering dilupakan adalah menyisihkan waktu untuk mengantar anak ke sekolah di hari pertama tahun ajaran baru.

Hari pertama masuk sekolah, apalagi untuk anak TK dan SD adalah hari yang penuh drama. Ada anak yang antusias, ada anak yang gelisah, ada orang tua yang biasa- biasa saja, ada orang tua yang antusias. Ada orang tua yang sibuk memposting foto anak-anaknya, ada juga yang biasa-biasa saja.

Sekolahpun punya masing-masing cara merayakan hari pertama masuk sekolah. Ada yang sibuk dengan skenario “perpeloncoan” dengan muka yang agak dibuat tak bersahabat. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang merias suasana dan lingkungan sekolahnya dengan sambutan penuh warna.

Sekolah St. Angela Labuan Bajo (TK-SD) memilih memoles dirinya dengan suasana yang berbeda. Pintu gerbangnya dipoles cantik dengan ornament warna warni diselipi tulisan selamat datang. Pemandangan menarik ketika kakak kelas 2 menjemput adik kelas 1 baru, lalu mengantarnya ke kelas.Orang tua yang mengantar dipersilahkan ngobrol dengan para guru. Tidak kalah seru di tingkat TK, selain disambut guru, anak-anak juga disambut badut yang lucu dan menggemaskan.

Sekolah yang bahagia, Orang Tua yang antusias
kata kunci yang ajaib di sekolah bahagia, adalah orang tua yang antusias. Antusias dalam presepsi anak yang baru masuk sekolah, sesederhana bangun pagi dengan bahagia, menyiapkan seluruh perlengakapan sekolah, berangkat ke sekolah bersama, orang tua yang memberikan pelukan dengan tulus, dan orang tua berinteraksi tanpa ada suasana asing di sekolah, dan lain-lain.

Kegiatan mengantar anak dihari pertama masuk sekolah dapat menjadi jembatan antara orangtua dan sekolah. Selain ajang perkenalan bagi orangtua dengan sekolah baru buah hatinya, akan ada banyak informasi yang harus diketahui orangtua saat mengantar anaknya ke sekolah di hari pertama Tahun ajaran baru. Hal lain yang tidak kalah penting untuk diketahui orangtua saat mengantar buah hatinya di hari pertama masuk sekolah adalah bagaimana menjalin koneksi antara sekolah, guru, dan orangtua murid

Keterlibatan orangtua sangat penting dalam mendampingi anak di hari pertama sekolah, karena dapat membangun hubungan positif antara lingkungan pendidikan di rumah dan di sekolah. Mengantarkan anak ke sekolah adalah kesempatan membangun hubungan positif antara lingkungan pendidikan di rumah dan sekolah. Mengantar bukan sekadar sampai sampai gerbang sekolah lantas pergi. Mengantar berarti menemani dan membangun interaksi dengan guru dan orangtua murid lainnya.
Harus diingat pula bahwa sekolah adalah rumah kedua anak. Karena anak menggunakan sebagian waktunya di sekolah. Mereka paling tidak mengisi 1/3 harinya dengan belajar dan berkegiatan di sekolah. Belajar dan berkegiatan di sekolah dilakukan dalam 5-6 hari dan bertahun-tahun lho. So, ada wajah masa depan anak di sekolah. Salah satu fase kritis dalam proses perkembangan anakketka anak baru masuk SD atau TK. Memang perlu ortu mengantar anaknya di hari pertama masuk sekolah, karena disitu orang tua bisa memberi support ke anak bahwa ini lingkungan baru kamu, nanti bakal ketemu orang baru.

Beberapa anak mungkin akan merasa cemas di hari pertama sekolah dan orang tua bisa menangkap sinyal tersebut. Diantaranya timbul ekspresi tegang atau wajah yang tampak ‘membeku’, bahkan kadang sampai menangis. Hal yang juga tak kalah harus diperhatikan adalah orang tua tidak perlu sampai menunggu seharian di hari pertama sekolah. Terlebih bila anak sudah cukup dewasa seperti pada tingkat SMP atau SMA. Pada anak SMP atau SMA orang tua bahkan mungkin perlu bertanya terlebih dahulu apakah mereka ingin diantar atau tidak. Alasannya menurut Ratih karena di usia remaja seorang anak seharusnya sudah bisa menyesuaikan diri. Apalagi isu remaja di usia itu adalah pertemanan dan anak bisa merasa malu kalau diantar orang tuanya. Jadi perlu disesuaikan lagi.

Tetap Dengan Catatan
Mengantar anak saat hari pertama sekolah dianggap kewajiban bagi beberapa orang tua. Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya hindari kesan bahwa orang tua mengalami kecemasan akan kegagalan anak.

“Karena orang tua takut anaknya gagal, sehingga mereka ini akan mengambil alih apa yang seharusnya anak lakukan. Kejadian ini justru menghambat mereka untuk mengeksplor sekolahnya, karena mereka akan lebih aman (bersama orang tua).

“Selama ada ibu di sekolah, aku akan lebih aman’. Maka perlu juga proses pengantaran anak ini dilakukan secara proporsional, diskusikan strteginya dengan sekolah. Orang tua perlu mengikuti kelas persiapan orang tua yang diselenggarakan sekolah, seperti yang dilakukan oleh sekolah St.Angela. Ada kelas orang tua semacam kelas penyamaan presepsi bagi orang tua dan guru-guru. Penting sekali mempertimbangkan kesempatan anak untuk belajar sendiri mengenai lingkungan sekolah dan mengembangkan rasa ingin tahu.

Dalam beberapa pengalaman bahkan ada anak yang takut ditinggal oleh orang tuanya sampai sang ibu ikut belajar. Ibu-ibu menyadari bahwa hal tersebut salah, tapi tidak ada usaha untuk menghentikan hal tersebut.

Jika ini sering terjadi dan dilakukan secara sadar oleh orang tua, bisa berdampak pada kemampuan adaptasi dan kemandirian anak. Lalu apa yang harus dilakukan oleh para orang tua?

“Sederhananya adalah dengan membiarkan anak bertumbuh dengan situasi sehari-harinya. Terutama untuk orang tua, kita perlu mengelola cemas kita. Kuncinya di situ, yang membuat orang menjadi ‘saya khawatir nanti anak saya gimana-gimana.

Mengelola rasa khawatir adalah PR dan tantangan besar terutama bagi orang tua generasi milenial. Hal ini disebabkan karena orang tua di media sosial lebih mudah terpancing emosinya, misal cemas dan khawatir dan akan terus bertumbuh.

Bagaimana meredamnya? Orang tua bisa beralih fokus bahwa sumber segala kecemasan ada di depan mata, yakni anak-anak mereka sendiri dan juga pikiran mereka. Kemudian bangun komunikasi sehat dan positif sesama orangtua, hindari rasa persaingan.

“Biarkan anak belajar, Dengarkan cerita-cerita pertama sekolah. Bikin seolah-olah kita tidak mengerti apa-apa, karena kan dunianya kali ini beda dengan dunia kita waktu kecil dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *