oleh

Margaretha

Cerpen Karya Gun Ndarung

Margaretha namanya. Berparas cantik, rambut ikal lurus, berbola mata Biru, hidung mancung berdarah Belanda.

Ibu dari kedua anak anak yang selalu ikut serta ketika kuhendak kemana mana.

Margaretha kupinang delapan tahun silam. Tak tanggung tanggung, itu pun setelah berpacaran selama bertahun-tahun Semenjak jatuh cinta pertama di bangku SMA.

Margaretha gadis berdarah Belanda itu, dikenal sebagai seorang gadis pendiam dan juga pandai. Sang juara di kelas.

Sebagai siswa yang kerap kali mengikuti lomba di kota kecamatan, ibu dari anak anak itu tidaklah jauh denganku. Selalu berada dalam satu ajang perlombaan sains di jenjang pendidikan menengah atas.

Tepat di sana, kami saling jatuh cinta. Hingga memutuskan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih serius.

Seusai sekolah, Margaretha kupinang. Kucoba melamarnya, namun orang tuanya membatalkan. Keluarga, kedua orang tuanya lebih memilih Margaretha untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Kekuatan cinta dengan Margaretha tentu tidak teruji oleh dalamnya lautan, sekalipun badai datang melanda, Margaretha tetap menjadi penguasa hati dan seluruh isi kepala ini.

Setelah dikabarkan, Margaretha menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama di pulau seribu pura, Bali. Akupun bergegas mengikutinya, walau hanya sebatas menjadi pekerja serabutan, setidaknya, mampu menjadi idaman sang pujaan hati Margaretha.

Margaretha rupanya memiliki rasa cinta yang sama terhadap saya, walaupun saya hanya seorang anak petani tulen dari kampung. Sebagai seorang anak petani yang tak bermodal, menempuh pendidikan di jenjang lebih tinggi bagiku, adalah sebuah hal yang tak mungkin terjadi. Sebatas mimpi.

Keseharianku, di Bali hanya menjadi perantau sembari membantu Margaretha untuk menggapai cita-citanya bersama kedua orang tuanya. Hal itulah membuat kami hidup serumah, tanpa diketahui orang tua.

Dua tahun berlalu, tepatnya Margaretha duduk di bangku semester empat, Margaretha dikabarkan mengandung. Cinta kami berdua direstui oleh Sang Kuasa.

Tiba saatnya, Margaretha melahirkan, merasa terhibur, seakan sudah sempurna hidup ini. Buah cinta kami adalah Mayang, gadis kecil mungil yang hadir pada tanggal sebelas Maret tahun itu.

Mayang yang lahir saat itu, juga merupakan anugerah Tuhan yang juga tepat hari bersejarah memperingati hari surat perintah sebelas Maret, atau Supersemar.

Sebagai perantau yang berkeluarga tanpa direstui keluarga, sejak saat itu, kami tidak pernah pulang ke kampung halaman. Kabar kehadiran Mayang juga belum sampai kepada kedua orang tua Margaretha.

Selang beberapa tahun, di usia anak pertama kami memasuki dua tahun, tepatnya seminggu setelah acara wisuda Margaretha. Kami berencana untuk pulang kampung, hendak menggelar acara syukuran wisuda di kampung halaman sekaligus acara adat kelahiran baru, Mayang, sang buah hati kami.

Saat itu, Margaretha juga sedang mengandung anak kami yang kedua, adik si Mayang. Bertepatan liburan Natal, Margaretha dan Mayang berlibur. Pulang ke kampung halaman.

Sedangkan saya, belum mendapatkan jadwal cuti. Maklum, di tempat kerja baru.

“Da da Papa, sampai ketemu lagi,” teriak Mayang , putri kecil kami setelah menaiki tangga Kapal laut, mengucap salam perpisahan. Untuk berlibur.

Sebagai seorang kepala keluarga, menjadi pemburu rupiah, untuk menafkahi keluarga kecil kami, walaupun diselimuti rasa rindu, saya tetap bekerja.

Dua Minggu kemudian.
Dering telepon genggamku berbunyi. Margaretha menelepon. Kira- lkira siang itu, tepat pukul sebelas siang. Saya pun bergegas mengangkat telepon.

“Hallo Amma,” ungkap Margaretha memulai percakapan siang itu.

“Hallo,” Jawabku, dengan penuh rindu.

“Amma, kemarin saya ke dokter, di kampung. Selamat ya, Mayang segera memiliki adik. Tentu Amma bahagia mendengarkannya,” tutur Margaretha.

Mendengar hal itu, saya merasa sangat bahagia. Ingin sekali merangkul dan mengecup kening sang pujaan hati, Margaretha.

“Margaretha, bagaimana keadaan keluarga? Melihat si Mayang, dan mendengar kabar kehamilan baru, tentu orang tua sangat senang juga,” lanjutku.

Tampaknya suara tangisan Margaretha sedang menangis di balik telepon. Seketika itu aku mulai membingung. “ada apa denganmu Margaretha?,” Tanyaku lagi.

Singkat cerita, ternyata Margaretha dan Mayang sedang berada di rumah keluarga, di kampung yang cukup jauh dari orang tuanya. Margaretha dan Mayang di usir dari rumah orang tuanya, lantaran karena hidup bersamaku membangun keluarga baru tanpa sepengetahuan mereka.

Orang tua tidak merestui. Rupanya semakin ruwet dan rumit. Semua rencana semula tidak berjalan.

Margaretha dan Mayang kembali ke Bali, tanpa sepengetahuan kedua orang tua kami.

Margaretha dan Mayang, setelah kejadian itu, memutuskan untuk kembali ke Bali. Bali, rasanya seperti kampung kelahiran. Memberi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kecil kami.

Berselang setahun kemudian, adik Mayang, Reinal, sudah berusia empat bulan, kabar duka kembali menghampiri. Ibunda Margaretha berpulang.

Sebagai putri semata wayang, Margaretha yang sejak kecilnya selalu dekat dengan ibunya, lebih memilih untuk pulang kampung hendak melayat ibundanya. Sedangkan Mayang dan Reinal, bayi kami berada bersamaku saat itu.

Mengurusi Mayang mungkin lebih mudah, karena usianya sudah usia bermain. Sedangkan Reinal, agak sulit bagiku, karena saya hanya seorang ayah dari kedua anak kami yang tidak fasih merawat anak di usia empat bulan.

Selama Margaretha di kampung, acap kali, Mayang dan Reinal kutitipkan di rumah penitipan anak. Sejak saat itu Reinal tidak merasakan asi dari ibundanya, Margaretha.

Tahun berganti tahun, Margaretha tak kunjung kembali. Usia Mayang dan Reinal semakin bertambah. Tak sedikitpun kabar tentang ibunda mereka menghampiri. Kabar tentang Margaretha hilang perlahan.

Margaretha sungguh tega. Membesarkan kedua anak kami, bagiku sudah biasa. Tanpa Margaretha pun tentu saya sudah melewati begitu bahagia.

Suatu sore, tepatnya tanggal sepuluh Maret. Mayang tiba tiba menghampiriku. Sembari menggenggam tangan adiknya, si Reinal. “Papa, besok Mayang ulang tahun ke empat tahun, papa ada rejeki?,” tukas Mayang sembari mengharapkan ulang tahunnya dirayakan.

Melihat hal itu diutarakan Mayang yang begitu semakin mengerti tentang kehidupan, hati ini tampak tersayat pisau. Sedih dan gelisah bercampur baur menjadi satu. “Ia nak, nanti dirayakan, atau kado ultahnya kita pulang berlibur di kampung bersama untuk menjemput mama?,” balik ku bertanya.

Seketika, tatapan Mayang menghampiriku, seraya menganggukkan kepala memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya.

Selang berapa bulan kemudian.

Pengumuman dari Pramugari maskapai penerbangan yang kami tumpangi telah menginformasikan bahwa tiga puluh menit kemudian, pesawat akan mendarat. Kami tiba di bandara di kota kabupaten kampung halaman kami. Anak anak tampak bahagia, rasa tak sabar ingin berjumpa dengan ibunda mereka.

Dari bandara ke kampung, dengan mengendarai mobil, kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam. Walaupun agak begitu cape, Mayang dan Reinal tidak surut semangat ingin berjumpa dengan ibundanya.

Siang itu, tiba di kota kecamatan, dalam perjalanan menuju rumah, saya dan kedua buah hatiku menyambangi rumah makan, ingin makan siang, tepatnya didekat kantor kecamatan.

Mayang dan Reinal, yang sudah mulai memasuki usia mengerti, dengan semangat bergegas menuju pintu rumah makan.

“Selamat siang?,” ucap Mayang, memberi salam kepada pemilik rumah makan.

Sembari memegang tangan adiknya, memasuki rumah makan itu. Sedangkan saya masih mengurusi koper bawaan kami, sembari melangkahkan kaki mengikuti arah anak-anak.

“Selamat siang juga, mau makan disini?,” Sahut suara lembut suara pemilik warung di balik etalase kaca, meja kasir.

“Ia Bu, mau makan siang. Kami bertiga,” lanjut Mayang, putri kecilku.

Sementara asik bercerita tentang perjalanan yang melelahkan itu, seraya bercerita tentang rasa penasaran anak anak kepada ibunya yang telah menghilang dua tahun lalu. Sontak suara ibu pemilik warung itu kepada pria berbadan tinggi, berotot dan bertato disampingnya:

“Papi, tolong bantu mami, ambilkan tisu di atas lemari belakang, tisu di meja sudah habis,” katanya.

Selang beberapa menit kemudian, ibu pemilik warung tadi, yang sedang keadaan hamil, kira-kira berusia lima bulan, dengan berpakaian daster yang sangat tidak asing bagi Mayang, menghampiri.

“Dek ini daftar menu, adik silakan pesan,” ungkap pemilik warung yang tengah hamil itu.

Menyambut suara ibu tersebut, sontak kami bertiga menoleh dan saling bertatapan langsung.

Mayang yang begitu kenal ibundanya, sontak berteriak kegirangan,: Mama…,” Mayang bergegas bangun dan memeluk ibu itu.

“Amma Anton, kok kamu bersama anak-anak bisa berada disini?,” tutur Margaretha terkejut.

(Sekian).

Kisah ini hanyalah hasil imajinasi belaka. Apa bila ada kesamaan nama, mohon untuk tidak tersinggung. Karena ini hanya karya imajinasi.

Oleh: Gundisalvus Ndarung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *