Petani Pisang di Matim Gagal Panen, Ini Respon Kadis Pertanian

Borong -Urita.ID, Petani Pisang Kepok di Kabupaten Manggarai Timur alami gagal panen. Hal tersebut dikarenakan pisang jenis pisang kepok milik petani terserang hama darah.

Salah seorang warga desa Golo Kantar, Riniani Anastasia(33) kepada Urita.ID, saat ditemui media ini,14/10/2022 lalu, mengatakan bahwa pisang kena penyakit terjadi sejak setahun belakangan ini. Kata dia tepatnya bulan Juni lalu.

Ibu dari tiga orang anak itu mengatakan bahwa kebun pisang miliknya berukuran setengah hektar terjadi hama penyakit semua.

“Pisang kena penyakit semua, tampak daunnya kering berguguran, pisang pada isinya tidak berisi tetapi berair agak berwarna merah, tidak bisa di konsumsi dan tidak bisa dijual,” tukas Rini.

Semenjak terserang hama penyakit, dirinya tidak lagi mendapat penghasilan dari menjual pisang. Padahal, pisang juga sangat membantu para petani untuk mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga. Kata dia,sebelumnya, sebulan terkadang bisa mendapatkan 400.000 rupiah dari hasil menjual pisang.

Menambahkan apa yang disampaikan Rini, salah seorang warga lain, Elisabet (31) mengeluh tentang hama penyakit yang menyerang tanaman pisang yang menyerang kebun pisang miliknya.

Kata Elisabet, hingga saat ini dirinya masih bingung bagaimana cara mengatasi persoalan hama penyakit darah pada pisang yang menimpa kebun pisang miliknya.

“Kami hanya potong saja. Kami tidak tahu bagaimana caranya untuk mengatasi masalah penyakit pisang,”ungkap Elisabeth kepada Urita.ID 14/10/2022.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas Pertanian, Yohanes Sentis kepada media ini mengaku bahwa penyakit darah pada pisang mulai teridentifikasi pada bulan Juli. Bermula dari beberapa kecamatan, diantaranya kecamatan Rana mese dan Borong.

“Teman- teman terkait BPOPT, pengamat hama tanaman pertanian melakukan observasi, dan ternyata benar tanaman pisang terserang hama penyakit darah,” ungkap Kadis Pertanian, Jhon Sentis kepada Urita.ID saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 17/10/2022.

Ia mengatakan, pada awal Juli penyakit darah ini mulai menyebar di beberapa desa seperti desa Watu Mori, dan Desa Compang Ndejing. Setelah itu menyebar di beberapa Kecamatan, ada kurang lebih empat kecamatan, kecamatan Rana Mese, Borong, Kota Komba dan Kota Komba Utara.

Terkait solusi, kata Kadis yang kerap disapa Jhon Sentis itu mengatakan bahwa dinas sudah berupaya untuk mencari informasi secara ilmiah. Baik di provinsi maupun di pusat. Ia mengaku, setelah mendapat informasi secara ilmiah dan secara teknis menangani penyakit dara pada pisang, tim BPOPT di lapangan terjun kedesa untuk masyarakat di desa segera mengetahui bagaimana cara mengatasi persoalan penyakit ini.

” Tim penyuluh di lapangan bersama pemerintah desa sudah turun sosialisasi ke pada masyarakat untuk segera mengetahui cara mengatasi dan menangani persoalan hama penyakit darah pada pisang. Antara lain itu, para petani agar bisa menggunakan alat panen yang bersih dan dipastikan tidak terkontaminasi dengan pisang penyakit sebelumnya. Kemudian, para petani harus melakukan panen secara mandiri, agar tidak memberi ruang kepada pembeli untuk menggunakan alat pemotong milik pembeli yang mungkin saja sudah pernah digunakan pada pisang yang kena penyakit sebelumnya,” tukasnya.

Tentu, untuk mengendali hama penyakit darah pada pisang ini agak rumit, agar lebih efektif, kata kadis Jhon Sentis, dengan cara penebangan secara keseluruhan dan biarkan terjadi peregenerasian atau alih fungsi lahan dengan migrasi tanam.

Terkait solusi alternatif, terhadap para petani yang mengalami kerugian atas dampak hama penyakit darah pada Pisang, kata kadis, sudah ada tahap awal untuk pengumpulan data. Lanjutnya, agar bisa mengetahui secara pasti berapa hektar pisang yang terserang hama penyakit dan berapa banyak petani yang mengalami kerugian.

Terkait data tersebut, nantinya akan berkoordinasi dengan dinas pertanian provinsi dan Pusat.

“Untuk penanganan dari pusat, kita nanti akan kedatangan tim dari pusat untuk melakukan pendampingan secara teknis,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *